7 Hari menjelang Haul Buntet Pesantren Cirebon 2018

Buntet Pesantren Cirebon.

DSC_0171.JPG

Tujuh hari menjelang acara Haul Al-marhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren Cirebon sudah mulai dipadati oleh sejumlah pedagang. Yang mana pada acara haul ini, akan dilanksanakan pada tanggal, 7 April 2018. yang bertempatan di halaman masjid Agung Buntet Pesantren. (Minggu/31)

Mereka tidak hanya berasal dari daerah Cirebon saja, melainkan juga berasal dari daerah yang lainya seperti, Tegal, Brebes, Bandung Dsb. Kedatangan mereka kesini ada yang sudah menjadi rutinitas setiap tahunya, ada juga yang baru pertama kalinya. Mereka menjual barang daganya mulai dari jauh-jauh hari, yaitu satu bulan sebelum menjelang acara, dan ada juga yang menjual barang daganya hanya pada saat hari acaranya saja.

Haul Pondok Buntet Pesantren Cirebon, yang merupakan sebuah haul terbesar Sejawa Barat. Acara haul ini sering dipadati oleh ribuan tamu dari berbagai daerah, dan dikunjungi dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari masyarakat setempat, wali santri, para pejabat dan para tamu undangan yang lainya. Dengan adanya momen besar inilah, yang diharapakan mereka bisa menjajalkan barang daganganya dan bisa meraup sebuah keuntungan yang begitu besar.

Bagi para pedagang yang lainya, apabila ingin melakukan seperti mereka, hendaknya memulai daganganya dari jauh-jauh hari. Kemungkinan besar tiga hari sebelum hari H dimulai, halaman yang sudah disiapkan oleh panitia haul sudah tidak bisa lagi ditemapati oleh para pedagang, dikarenakan tempatnya sangat terbatas.

Demikian informasi yang dapat saya fahami, kurang lebihnya mohon maaf.

Trimakasih …

Iklan
Featured post

Disain Batik Manual Indonesia

Kaligrafi Manual Qs.Al-Fill ayat 1-5

Ujian Muhafadhoh

Ujian muhafadhoh atau biasa dikenal dengan ujian hafalan merupakan sebuah ujian yang diterapkan oleh pondok pesantren Hidayatul Mubatadi’in Al-Inaaroh 02, yang berada di dalam Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren Cirebon, (Senin, 29/18).

Ujian ini dilaksanakan dua kali dalam setahun yaitu, dipertengahan tahun dan diakhir tahun ajaran baru. Ujian ini juga dilaksankan setelah melewati 3 tahap ujian. Yang pertama,ujian tam-taman, kedua ujian lisan, dan yang ketiga adalah ujian tulis. Sebelum kita membahas selanjutnya saya akan menjelaskan terlebih dahulu apa itu ujian tam-taman, lisan, dan dan tulis.??

1. Ujian tam-taman

Disebut ujian tam-taman karena dalam ujian ini para santri di tuntut untuk melengkapi semua makna atau catatan yang pernah diberikan oleh seorang ustadz atau guru kepada muridnya, yang kemudian dalam satu waktu bersamaan semua mata pelajaran harus dikupulkan sesuai dengan tingkatan masing-masing, dan hal ini membutuhakan yang namanya ketelitian dan kesabaran dalam menjalaninya, agar apa yang mereka tulis tidak menyeleweng dari kaidah atau makna yang telah diberikan oleh unstadznya.

Ujian tam-taman merupakaan sebuah ujian yang dilaksanakan sebelum menjelang ujian lisan, dan hal ini merupam syarat wajib yang harus dipenuhi oleh seorang santri. Apabila dalam satu mata pelajaran saja ada makna atau catatan yang belum lengkap maka, seorang santri tidak diperkenankan mengikuti ujian berikutnya yaitu, ujian lisan.

Tujuan adanya dilaksanakn unjian tam-taman ini diantaranya adalah:

  • Agar Makna atau catatan yang diberikan oleh seorang Ustadz atau gurunya itu lengkap, sehingga mereka mudah mempelajarinya lagi ketika suatu saat nanti mereka lupa.
  • Melatih para santri bahwa yang namanya catatan adalah penting bagi dirinya, karena ini merupkan wadah atau bekal ketika suatu saat nanti mereka membutuhkanya.
  • Melatih menulis
  • Merupakan tanda penghormatan terhadap ustdaz atu guru yang telah mengajarakan atau membimbing mereka dalam belajarnya.

2. Ujian Lisan

Disebut ujian lisan karena dalam ujian ini menganut sistem tanya jawab antara Murid dan Gurunya mengenai suatu permasalahan atau perseoalan yang berkaitan dengan materi yang telah diajarkan kepada muridnya. Yang mana, dalam ujian ini Murid Berhadapan langsung (bertatap muka) dengan gurunya, lalu guru bertanya kepada muridnya tentang sepetutar pelajaran yg diberikan padanya.

Biasanya, ujian tahap inilah merupakan ujian yang sangat ditakuiti oleh semua santri, karena dalam ujian ini mereka harus bersungguh-sungguh dalam mempelajari semua materi yang telah diajarkan padanya. Baik mengenai hukum fiqih, haid, ilmi hadis, tauhid, ushul fiqih, dll. Yang kemudian akan diujikan dalam satu waktu bersamaan. Belum lagi ditambah rasa kehawatiran ketika suatu saat nanti mereka ditanya tentamg suatu permasalahan kemudian mereka tidak bisa menjawabnya.

Ujian ini dilaksanakan selama beberapa hari, karena dalam ujian ini membutuhkan waktu yang banyak dalam menyelesaikanya, yaitu sesuai dengan urutan tingkatan kelas yang diujinya.

Tujuan adanya dilaksankan ujian ini diantaranya adalah:

  • Melatih berfikir santri
  • Meriviu atau mengulang kembali pelajaran yang telah diajarkanya.
  • Melatih sejauh mana pemahaman para santri dalam menangkap pelajaran yang telah disampaikanya.
  • Mengetahui apakah mereka benar-benar paham atau belum.
  • Mengetahui apakah mereka mempelajari kembali apa yg telah disampaikanya.

3. Ujian Tulis

Disebut ujian tulis karena dalam ujian ini mengunakan sistem bentuk soal yang telah ditulis oleh gurunya di atas lembaran kertas yang berupan tulisan arab. yang kemudian, para santri menjawabnya diatas soal yang telah diberikan padanya,

Ujian inilah merupakan ujuan yang sangat disukai oleh santri, karena dalam ujian tidak terlalu membebani para santri, karena dalam ujian ini, mereka hanya dituntut untuk mempelajari sesuai apa yang akan diujikan nanti, ditambah sebelumnya mereka sudah mempelajari ketika menjelang ujian bentuk ujian lisan tadi.

Ujian tulis ini biasanya dilaksanakan selama lima hari, dan dalam setiap hari terdapat dua mata pelajaran yang harus mereka pelajari sesuai tingkatan kelas masing-masing. Ujian jenis ini dilaksanakan secara bersamaan mulai dati kelas I’dadiyah sampai kelas tiga dirotsah, beda dengan ujian lisan yang mana dilaksanakan secara bergantian.

Berikut ini merupakan tujuan adanya dilaksanakanya ujian tulis ini diantaranya adalah:

  • Menambah pengetahuan tentang suatu permasalahan yang belum dibahas pada waktu ujian sebelumnya yaitu, ujian lisan.
  • Mampu merealisasikan antara pemgetahuan dengan tulisan.
  • Mampun mengemabangkan pemikiran yang direalisasikan lewat tulisan.
  • Melatih kemampuan berbahasa dalam mengerjakan soal.
  • Mengetahui kemampuan dalam menagkap sebuah pelajaran.

Itulah penjelasan mengenai ujian sebelum masuk ketahap ujian muhafadhoh. Dan Untuk selanjutnya saya akan menjelaskan mengenai ujian muhafadhoh ini.

Ujian muhafadhoh adalalah sebuah ujian yang dilaksanakan setelah dilaksanakanya ujian tulis, yang mana dalam unjian ini para santri tidak hanya dituntut untuk belajar tapi juga dituntut untuk menhafal. Disebut muhafadhoh karena dalam ujian ini menganut sistem hafalan yang sebelumnya sudah ditargetkan oleh pihak pondok, yang kemudian disetorkan kepada gurunya sesuai jadawal yang telah ditetapkan sesuai tingkatan kelas masing-masing.

Dalam siatem ujian ini para santri betahadapan langsung dengan tutor atu gurunya yang kemudian, guru membacakan lafadz yang telah dihafalnya, lalu santri melanjutkan lafadz yang telah guru atau tutor berikan padanya. Sehingga dalam ujian ini biasanya para santri harus benar-benar ingat apa yang telah dihafalnya, mulai dari sub bab, no halaman, maupun no bait hafalan.

Demikian imformasi mengenai ujian muhafadhoh ini, kurang lebihnya mohon maaf, dan Semoga bermanfaat. 😊

Trimakasih atas perhatianya….🙏

“CINTAKU” dalam “PERJUANGANKU”

Tatkala mentari bersinar…

Menyinari bola yang begitu besar!

Indah akan warnanya…

Cerah aka sinarnya…

Seakan ingin merasakan sebuah keindahan

Yang belum pernah aku dapatkan.

Tahun demi tahun telah ku lalui…

Rasa letih yang ku alami…

Tak membuahkan hati sanubari.

Kini ku berkata pada diriku…

Jika ini adalah ketulusan hatiku yang terdalam…

Maka, jangan biarkan dirimu…

Menjauh dari sebuah rasa ini, yang ku persembahkan padamu.

Betapa besar cintaku padamu…

Sebagaiman besarnya cintaku pada dzat yg memiliki kalbu.

Sinar menatari yang selama ini ku cari-cari…

Kini akan menghilang dalam sebuah kegelapan

Akibat bola kecil yang selalu menghalang.

Hati mulai gelisah…

Pikiran menjadi resah…

Tak tau arah kapal terbang menuju sebuah arah.

Kini ku pasrahkan semua rasa ini padamu, wahai Dzat yang membolak bailkan kalbu!!

ku sangat lelah tuk memikirkan semua ini….

Biarkan tetesan keringat keharuman…

Menuju sebuah keindahan.

Biarka Raut muka kehancuran…

Menuju sebuah perbaikan.

Hingga apapun jalan yang kau berikan…

Ku akan tulus menjalani dalam sebuah kehidupan.

Mentari kini bersinar kembali…

Mebuka jendela kegelapan…

Menuju jalan kehidupan…

Menunjukan sebuah petanda!

Tentang apakah ini sebuah kebahagiaan?

Ketika Harapan Jadi Sebuah Kebanggaan

Inilah yang dirasakan saat ini oleh gadis cantik asal jawa. Sebut saja ia adalah Setianti anak dari keluarga Bapak Sori yang tinggal di Pedesaan dekat sebuah pesawahan. Ia merupakan gadis yang tomboy, sederhana, taat beribadah, pintar, patuh terhadap orang tua dan penuh dengan kemandirian. Sejak kecil ia ditinggal oleh ibunya merantau ke sebuah negara Arab Saudi untuk mencari pekerjaan disana, sehingga apapun makananaya itulah yg harus ia syukuri atas nikmat Allah yang diberikan padanya. Ia mempunyai ternak kambing meskipun terbilang sedikit dan membutuhkan waktu lama untuk memuainya, tapi tak menjadikan masalah bagi ia dan keluarganya tuk selalu beristiqomah dalam memliharanya. Ia juga mempunyai ladang kecil yang sering ia tanami beraneka ragam sayuran untuk mereka jual ketetangganya serta di beberapa warung didesanya.

Sejak kecil ia sekolah dibangku Sekolah Dasar (SD), yang mana ia tidak bersama dengan ibunya akan tetapi ia bersama bapak dan kakak laki-lakinya, karena pada saat itu ibunya pergi ke luar negeri. Meskipun demikian ia tetap semangat menjalani hidupnya di waktu ia masih duduk dibangku sekolahnya. Setiap kali ia mau berangkat sekolah terlebih dahulu ia membantu ayahnya dalam menjalani aktifitas paginya seperti: menyapu, nyuci piring, dan bersih-bersih yang lainya. Sehingga tergadang ia suka terlambat ketika berangkat ke sekolah, tidak seperti teman yang lainya yang biasa masuk jam 07.00 pagi. Ia juga selalu membawa bekal makanan atau lainya yang ia dapatkan dikebun miliknya atau kebun milik saudaranya, ketika ia tidak mendapat uang saku dari orang tuanya, ia tidak merasa malu ketika ada temanya yang mengolok-ngolok atau menghina ia, karena pada prinsipnya, ia selalu tancapkan diri dalam hatinya bahwa:

janganlah pernah kau balas keburukan dengan keburukan apalagi kebaikan dibalas dengan keburukan tapi balaslah keburukan atau kebaikan dengan kebaikan pula”

Meskipun terkadang ia suka marah atau bahkan sampai melemparkan sesuatu kepada mereka atas apa yang mereka lakukan padanya.

Sepulang sekolah ia melakukan sholat dhuhur dirumahnya, karena ini merupakan ajaran orang tua yang mereka torehkan sejak kecil padanya. Setelah ia makan dan istirahat lalu ia pergi bersama ayahnya ke sebuah kebun miliknya yang berada di belakang Rumahnya untuk memetik sayuran kangkung yang sudah bisa dipanen, yang kemudian ia jual ke tetangga, saudara dan warung di Desanya pada waktu sore. Terkadang ia juga mencari rumput untuk kambing peliharaanya ketika bapaknya tidak ada di rumahnya. Itulah yang ia lakukan pada masa-masa sekolahnya.

Setelah ia lulus dari bangku sekoalah dasar (SD), ia melanjutkan pendidikanya di Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Desa sebelahnya. Hasil kegigihan dan keuletanya membuat ia berhasil menorehkan ptestasi di Sekolahnya. Ia sering mendapatkan pringkat di Kelasnya, karena ia merupakan salah satu siswa pandai dari beberapa siswa disekolahnya. Namun, ada sesuatu yang disanyangkan darinya, setelah ia lulus dari bangku sekokah, ia tidak bisa melanjutkan pendidikan sekolah ke jenjang berikutnya seperti teman yang lainya, karena ada faktor ekonomi yang membuat ia berhenti dari pendidikanya. Padahal pada saat itu, ia ingin sekali melanjutkan sekolahnya sperti yang lainya, karena bagaimanapun juga yang namanya pendidikan adalah penting bagi dirinya, karena masih banyak keinginan dan cita-cita yang ingin ia torehkan pada kedua orang tuanya. Namun apalah daya semua ini sudah menjadi jalanya, ia harus mensyukurinya atas karunia yang Allah berikan padanya.

Meskipum demikan ia tidak putus semangat atas jalan yg Allah ridhoinya. Bulan demi bulan Kini ia tinggal di jakarta memcari sebuah pekerjaan disana, karena bagaimanapun juga ketika harapan tidak bisa digapainya, maka masih ada jalan lain yang ia harus tempuhnya, sehingga dengan adanya jalan inilah yang diharapkan bisa membahagian orang tuanya. Lima tahun yg dilalaminya tak ada kata bosan baginya tuk selalu berbakti padanya. Alhadulillah berkat keuletan ia dalam menjalani hidupnya kini ia bisa hidup bahagia bersama keluarganya ditambah lagi kini ia mempunyai dua adik yang ia sayanginya. Ia merupakan anak kebanggaan orang tuanya yang harus kita jadikan pelajaran darinya.

“Jika harapan tidak bisa kau gapai, maka masih banyak jalan yang harus kau tuai, karena hidup bukan satu pilihan tapi ribuan limpahan yang Allah berikan.”

Cinta diatas Sajadah

“Cinta di atas sajadah” 1

Di sebuah desa di jawa timur, hiduplah seorang gadis solihah, yang sangat baik budi pekerti serta tutur katanya. Bukan itu saja iman dan ketaqwaan nya kepada sang pencipta dan ia memiliki paras yang cantik lahir dan batin. Subhanallah…
Sebut saja Aisyah… ia hanya tinggal bersama ibunya, karena ayahnya telah lama meninggal.
Dia sangat berbakti kepada ibunya. Tak pernah sedikitpun ia melukai hati sang ibu…
Mereka tinggal dengan keadaan ekonomi yang pas pasan. Walau demikian Aisyah dan Ibunya tak pernah sedikit pun mengeluh dengan apa yang telah Allah anugrahkan pada mereka, meski hanya menjadi petani tapi Aisyah dan Ibunya selalu bersyukur, karena di luar sana masih banyak orang yang hidupnya lebih kekurangan daripada mereka.
Mereka pun tak lupa selalu berbagi dengan sesama, dengan orang orang yang membutuhkan, dengan anak yatim piatu, di kala mereka sedang di beri rizki lebih oleh Allah.

Di sisi lain, hidup lah seorang pemuda yang di mana pemuda itu adalah anak dari seorang kiyai besar di daerahnya. Pemuda itu sangat soleh dan patuh kepada kedua orang tuanya. Meski demi kian, ia tak pernah bersombong diri dengan apa yang ia miliki. Ia juga tidak pernah menyombongkan diri bahwa ia adalah anak dari kiyai besar.
Sebut saja pemuda ini Gus Hasan.
Gus Hasan baru saja menyelesaikan mondoknya di salah satu pondok pesantren di Jawa Timur, dan sekarang menetap bersama orang tuanya.

Pada suatu pagi yang cerah, Gus Hasan pun berajalan jalan menikmati keindahan dan kesejukan pemandangan yang ada di sekitar desanya bersama seorang temannya yang juga seorang santri di pondok Abahnya yang bernama Hamzah.
Sambil bercerita cerita bahwa ia sangat rindu sekali dengan suasana seperti ini, karena ketika di pondok tak bisa merasakan seperti ini.
Saat Gus Hasan berjalan di sekitar persawahan, tiba tiba terdengar seorang perempuan yang sedang membaca lantunan ayat suci Al-qur’an. Gus Hasan pun terhenti langkahnya seketika mendengar itu, dalam hatinya berkata:

“Subhanallah, betapa indahnya lantunan ayat suci dari kalamMu Ya Allah, betapa tersentuh hati ini mendengarnya. Dan siapakah kaum hawa ini yang melantunkan kalamMu dengan begitu indah ini. Sungguh ia termasuk golongan wanita sholehah.”

Dengan terheran heran, Hamzah pun bertanya, “Ada apa Gus? Mengapa tiba tiba langkahmu berhenti?”

“Siapakah gerangan yang membaca kalamullah ini dengan merdunya?” Tanya Gus Hasan.

“Oh, itu Aisyah.” Ujar Hamzah sambil menunjuk perempuan yang sedang duduk di sebuah gubuk di tengah sawah.
Setelah itu Gus Hasan hanya merespon dengan senyumnya sembari melihat ke arah Aisyah sekilas, lalu meneruskan perjalanannya.

Pada mulanya memang Gus Hasan hanya cukup tahu saja dengan Aisyah. Tetapi setiap kali ia sedang jalan jalan pagi mengitari sawah itu, ia selalu mendengar Aisyah melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan indahnya serta, karena keistiqomaahan dan kealiman Aisyah, membuat Gus Hasan jatuh hati. Hari demi hari rasa itu ia pendam dalam hatinya, karna ia malu pada dirinya sendiri ketika melihat ciptaan Allah yang begitu luar biasanya. Ia hanya bisa berharap semoga Allah bisa mempertemukannya.

Suatu ketika, Aisyah di suruh ibunya pergi ke warung untuk membeli minyak. Di tengah perjalanan Aisyah melihat seorang laki laki yang soleh, gagah nan tampan sedang menyapu halaman rumah pondoknya. Gus Hasan, iya Gus Hasan. Itulah sesosok laki laki yang sedang ia lihat, siapa yang tak kenal, hormat dan kagum dengan Gus Hasan, karna dia adalah anak dari seorang Kiyai besar di daerahnya.
Aisyah kagum dengan kerendahan diri Gus Hasan, ia seorang anak kiyai, tetapi ia tak ingin di anggap dirinya anak kiai, ia selalu berprilaku seperti orang pada umumnya. Karna ia tak ingin di segani orang karena hanya mentang mentang Abahnya seorang kiai besar.
Dengan adanya sifat itulah yang membuat Aisyah jatuh hati pada Gus Hasan. Namun apalah daya, Aisyah tak ingin banyak berharap lebih.

“Cinta di atas Sajadah” 2

Karena ia menyadari bahwa dirinya adalah orang biasa, sedangkan Gus Hasan adalah seorang anak dari kiai besar. Dan akhirnya ia memendam rasa ini sampai Allah menakdirkan hal ini. Ia tidak tahu bahwa Gus Hasan pun memiliki perasaan yang sama padanya. Ia hanya berharap pada Sang pencipta, jika ini adalah jalanya maka Allah akan mempertemukanya.

Aisyah memang sangat taat beribadah, sebagai mana ajaran yang telah di ajarkan ayahnya kepadanya, agar bisa jadi muslimah yang baik. Dan Aisyah pun tak pernah ketinggalkan melakukan sholat sunah terutama sholat yang di lakukan pada 1/3 malam, yaitu shalat tahajud.

Waktu menunjukan petang, setelah lulus dari pondok Gus Hasan membantu Abah nya mengajar di Pondok Pesantren nya. Karena Abahnya sudah cukup sepuh untuk melakukan aktivitas yang sangat padat, jadi hampir 2/3 pengajaran d Pondok pesantren di pimpin oleh Gus Hasan.

Di sisi lain, Aisyah juga mengajar ngaji anak anak d lingkungan rumahnya. Dia sangat telaten dan ulet mengajarkan satu demi satu huruf kepada anak anak itu, yang dari mulanya tidak tau huruf sama sekali, sampai anak anak itu pintar membaca Al-qur’an.

Waktu menunjukan sepertiga malam, Aisyah pun terbangun dari tidurnya dan langsung mengambil air wudlu.
Sholat lah ia dengan sangat khusyuk. Kemudian dalam do’anya tak pernah lupa selalu mendo’akan ke 2 orang tuanya, dan juga selalu meminta agar kelak yang akan jadi jodohnya adalah seseorang yang bisa merubah dirinya menjadi muslimah yang lebih baik lagi. Sederhana sekali yang ia Minta, ia tak pernah mengeluh atas apa yang telah Allah berikan, dan ia pun selalu bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah Allah berikan.

“Cinta di atas Sajadah” 3
Di waktu yang sama, Gus Hasan pun melakukan sholat tahajud. Ini memang menjadi kebiasaan beliau sejak kecil hingga saat ini. Tapi ada yang berbeda dengan do’a yang Gus Hasan curahkan kepada Allah. Ia menyelipkan sebuah curahan hati kepada Penciptanya.
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau yang maha tau segala isi hati hamba hambamu ini Ya Allah… Engkau lah yang Maha membolak balikan hati manusia, dan Engkau pula lah Maha pemilik hati setiap manusia…”
“Ya Allah, kini aku telah Jatuh hati pada salah satu makhluk ciptaanMu. Ya Allah….. Aku tak mau membuat Engkau cemburu dengan ini, karna aku telah Jatuh hati kepada selainmu dan Rasulmu… Aku jatuh hati kepada dia, karna ketaatannya Padamu… karna setiap aku mengingatnya aku selalu teringat padamu Ya Allah…”
“Ya Allah, Maha pemilik hati manusia… Jika memang dia yang terbaik untuk hamba, maka dekatkan lah… Aamiin..”
Itulah do’a Gus Hasan yang kini selalu ia selipkan pada do’a di atas sajadahnya ketika shalat tahajud.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, hingga beberapa tahun ia rasa itu pun tak pernah lekang oleh waktu… begitupun dengan Aisyah yang merasakan hal yang sama.

Hingga pada suatu ketika Abahnya Gus Hasan melihat Gus Hasan sedang duduk. Tatapannya lurus memandang ke depan dan entah apa yang ia lihat, tatapannya seperti sedang menerka nerka sesuatu. Abahnya pun menghampirinya.

“Ada apa gerangan anakku, Abah lihat akhir-akhir ini kau sedang memikirkan sesuatu..”ucap Abahnya.

Gus Hasan pun menoleh sembari tersenyum tipis, lalu berkata,”Tidak Bah,” rupanya ia belum ingin bicara tentang apa yang terjadi saat ini pada dirinya.

“Cinta di atas Sajadah” 4

Sambil memegang pundak Gus Hasan, Abah nya pun berkata, ” Jika kau memang bingung terhadap suatu hal, maka Istikharah lah anakku, minta lah petunjuk kepada Allah. Abah pesan selalu lah engkau melibatkan apa pun dengan Allah. Jangan lah engkau mengambil suatu keputusan tanpa melibatkannya… karna Dia lah Maha tahu apa yang terbaik untuk hambanya.”

Mendengar perkataan Abahnya, Gus Hasan pun tersenyum sambil berkata, “nggih Bah,” ucapnya dengan lembut pada Abahnya.

Dan pada suatu malam, Gus Hasan tidak hanya melakukan sholat tahajud, tapi setelah itu beliau melakukan sholat istikharah juga. Ia berharap agar di beri petunjuk oleh Allah SWT.

“Ya Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang Maha Memiliki Kehidupan, Yang Maha Tau segala hal, Yang Maha Tau apa yang terbaik untuk hambanya. ”
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Tau apa yang hambaMu rasakan.”
“Ya Allah, hambaMu ini ingin minta petunjukMu Ya Allah… Jika memang Aisyah itu Jodohku satukanlah kami dalam satu ikatan yang suci Ya Allah… Jika dia yang terbaik untukku, mudahkanlah jalanku untuk lebih dekat padanya Ya Allah… Hamba mohon petunjukMu… Apa yang terbaik untuk hamba… Aamiin Aamiin Ya Robbal Alamin.”
Begitulah do’a yang Gus Hasan panjatkan kepada Allah SWT.

Setelah melakukan sholat, Gus Hasan pun kembali melanjutkan tidurnya…

Dan apa yang terjadi, Gus Hasan bermimpi bertemu dengan sekor merpati putih yang cantik nan indah bulunya…. merpati itu terbang di angkasa, kemudian lama kelamaan mendekat kepadanya. Lalu Gus Hasan menangkapnya…
tiba tiba Ummi nya membangunkan Gus Hasan.
“Le, bangun nak, sudah subuh. Di tunggu Abahmu di depan.” Sembari mengusap kening Gus Hasan dengan lebut.

Gus Hasan pun terbangun.
“Nggih Mi.”
Sembari berjalan mengambil air wudlu.

“Cinta di atas Sajadah” 5

Shalat subuh berjamaah pun telah selesai… seperti biasa setelah sholat subuh Gus Hasan selalu berjalan jalan di sekitar desanya, tapi kali ini berbeda, yang biasanya di temani oleh Hamzah, kali ini Gus Hasan berjalan pagi dengan Abahnya.

Di perjalanan Gus Hasan sembari memikirkan apa yang tadi ia mimpikan… apa pertanda mimpi itu… mengapa seekor merpati itu menghampirinya… apakah benar ini pertanda baik?
Segala pertanyaan terbesit dalan benaknya…

Mengerti dengan apa yang terjadi pada anak tunggalnya ini, Lalu berkata dengan lembut kepada Gus hasan sembari memegang pundaknya.
“Bagai mana Hasan? Apakah kamu telah melakukan sholat istikharah itu?”
“Iya Bah sudah” jawab Gus Hasan lirih.

Abahnya pun tersenyum, lalu berkata,
“Meski engkau tidak bercerita sesuatu apapun kepada Abahmu ini, tapi abah tau apa yang kau fikirkan saat ini, Abah tau apa yang terjadi padamu saat ini.” Ucapnya sambil menerawang kedepan.

Gus Hasan pun menoleh ke arah Abahnya, dengan mengerutkan keningnya seakan penuh tanya… mengapa abahnya berbicara seperti itu. Tanpa ada kata apapun yang terucap dari mulutnya.

Abahnya pun kembali meneruskan perkataannya.
“Abah tahu engkau sedang jatuh hati pada seorang gadis. ”
“Apa yang engkau mimpikan Hasan?”
Tanya sang Abah kepada Gus Hasan.

Ketika itu Gus Hasan sadar, memang setiap apa yang ia fikirkan pasti Abahnya selalu tau. Itulah kelebihan abahnya… entah dari siapa entah dari mana pasti abanya tau apa yang terjadi padanya.

Gus Hasan pun memaparkan apa yang ia mimpikan setelah sholat istikharah itu. Dan bertanya apa pertanda mimpi itu.

Abahnya pun menjawab, “Persuntinglah dia anaku, karena Allah telah memberikan petunjuk itu.”
“Insyaallah dia adalah yang terbaik yang Allah berikan untukmu nak”
“Abah dan ummi mu pasti setuju dengan keputusanmu, jika memang keputusan mu adalah yang terbaik yang kau pilih untuk hidupmu”

Setelah mendengar penjelasan Abahnya itu, Gus Hasan tersenyum yakin, bahwa Aisyahlah yang terbaik untuknya.

Setelah mendapatkan restu dari Abah dan ummi nya, Gus Hasan pun meminta izin untuk meminang Aisyah besok hari.

“Cinta di atas Sajadah” 6

Di waktu yang sama ketika Gus Hasan bermimpi, ternyata Aisyah pun bermimpi.
Dalam mimpinya ia berada di tempat yang sangat subur dan indah… diamana di situ terdapat air terjun yang jernih airnya, juga banyak bunga bunga warna warni yang indah. Kemudian ia berjalan jalan di tempat tersebut sembari mengucap subhanallah berkali kali. Tak berselang lama dari kejauhan ia melihat sekor kuda putih yang sedang menghampirinya… sungguh gagah dan rupawan kuda tersebut, sehingga Aisyah pun terpesona melihatnya.
Setelah kuda itu tepat di dekatnya, seperti mengisyaratkan sesuatu, kuda itu ingin Aisyah naik di atasnya.. kemudian Aisyah pun menaiki kuda tersebut.

Begitulah mimpinya, dia pun sempat heran, apa pertanda mimpi itu… apa maksudnya dengan adanya kuda Putih yang gagah rupawan itu. Dia pun sempat bertanya kepada ibunya, tapi ibunya hanya tersenyum lalu berkata, “mungkin itu hanya bunga tidur nak.”

Setelah itu pun Aisyah tidak pernah mempermasalahkan lagi mimpi itu, meski tak jarang, perasaan penasaran itu pun menghampirinya.

Keesokan harinya ketika Aisyah sedang memasak di dapur, dan ibunya tengah menyapu halaman ada rombongan keluarga kiyai besar yang menuju ke rumahnya. Ketika itu Ibunya Aisyah yang sedang menyapu halamn pun kaget, ada apa gerangan keluarga kiyai besar ke rumahnya… tak biasanya mereka ke sini. Keluarga kiyai besar itu tidak lain hanyalah keluarga dari Gus Hasan yang Akan meminang Aisyah.

“Assalamu’alaikum.Wr.Wb” dengan serentak Gus Hasan sekeluarga mengucap salam kepada Ibunya Aisyah.
“Waalaikumsalam.Wr.Wb.” Ibunya Aisyah menjawab dengan sedikit gugup dan kepala tertunduk. Lalu mempersilahkan Gus Hasan sekeluarga masuk ke rumahnya yang terlihat terlalu sederhana untuk seorang Kiyai besar seperti Abahnya Gus Hasan sekeluarga.

Aisyah yang tadinya sedang memasak, la langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya, karna ia tak ingin mendengar pembicaraan siapapun.

“Cinta di atas Sajadah” 7

Memang demikian lah yang selalu di ajarkan oleh Ayahnya kepadanya.

Karna penasaran, Ibunya Aisyah pun bertanya kepada Abahnya Gus Hasan,
“Mohon maaf sebelumnya saya lancang bertanya kepada kiyai, kalo boleh tahu ada Apakah gerangan Kiyai sekeluarga datang ke gubuk saya ini?” Ibunya aisyah bertanya sembari menundukkan kepalanya.
“Kami juga mohon maaf sebelumnya, jika kehadiran kami membuat ibu kaget, dan bertanya ada apakah ini?”
“Kami kesini bermaksud memenuhi permintaan anak kami ini” ucap Abahnya Gus Hasan sembari menepuk pundak anak nya.

Lalu Gus Hasan pun menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke rumah Aisyah. Yang tak lain yaitu untuk meminang Aisyah. Ia menjelaskan bahwa sebenarnya ia sudah lama jatuh hati pada Aisyah… tapi ia merasa tak pantas karena ia merasa Aisyah terlalu baik untuknya… tapi pada akhirnya kini ia memberanikan diri. Walau ia belum yakin bahwa aisyah akan menerimanya.

Mendengar pernyartaan Gus Hasan tersebut ibunya Aisyah berkata ” Seharusnya bukan panjenengan yang minder Gus. Justru kami yang harusnya minder. Kami tak menyangka bahwa sebenarnya panjenengan yang jatuh hati pada anak saya. Apalah kami ini, hanya orang biasa, yang nasabnya tak sebanding dengan panjenengan.”

“Jangan bicara seperti itu bu. Karna sebenarnya semua orang itu sama di mata Gusti Allah.” Ucap Gus Hasan.

Ibunya Aisyah pun tersenyum. Dalam hatinya ia merasa kagum sekali dengan keluarga Gus Hasan ini, yang tak pernah menganggap remeh siapapun. Ia sangat senang sekali dan beruntung karena Gus Hasan ternyata jatuh hati pada putrinya.

“Cinta di atas Sajadah” 8

Lalu Ibunya Aisyah pun memanggil Aisyah untuk menemui Gus Hasan sekeluarga. Dan ketika ibunya memanggil Aisyah yang sedang di kamar, ketika itu ibunya menceritakan apa maksud Gus Hasan sekeluarga datang ke sini. Lalu Aisyah ketika ia mendengar cerita bahwa keluarga gus Hasan tiba ia langsung terkejut padanya. Pada awalnya ia tidak percaya namun hampir setelah ibunya menjelaskan berulang kalinya baru ia bisa menerimanya. Ia tidak menyangka bahwa orang yg selama ini ia cintainya kini datang untuk menemuinya, dengan spontan ia langsung keluar dari kamarnya. Setelah keluar ia pun mulai tertegun dalam hatinya, “Subhanallah, Engkau memang maha pemurah lagi Maha tahu segala isi hati hambaMu. Bersyukur lah hamba, atas nikmat yang telah Engkau berikan kepada hamba Ya Allah. Seorang laki laki yang ada di hadapan hambamu ini adalah laki laki yang hamba idam idamkan… ternyata semuanya tak akan jadi mustahil bila Engkau telah berkehendak.”

“Cinta di atas Sajadah” 9

Begitu pun dengan Gus Hasan, betapa tekejutnya Gus Hasan melihat seorang Aisyah, yang tak pernah ia bayangkan seperti apa parasnya itu.
Ternyata Aisyah adalah gadis yang sanagt Cantik, bukan hanya parasnya, hati Aisyah pun sangat cantik, apa lagi di tambah ketaqwaan nya kepada Allah SWT. Dengan spontan Gus Hasan mengucap, “Subhanallah”… dan berkata dalam hatinya,” Ya Allah… betapa cantiknya wanita ini, ternyata bukan hanya sekedar yang aku tahu saja, Aisyah seorang wanita yang sangat taat kepadaMu, tapi engkau juga menganugrahkan kecantikan lahir dan batin kepadanya.” Ketika itu pun Gus Hasan tersadar bahwa Aisyah telah datang.
Aisyah pun duduk sembari menunduk.
Lalu Abahnya Gus Hasan bertanya kepada Aisyah.
“Wahai Aisyah, apakah ibumu telah menceritakan apa maksud kedatangan kami?.”

“Sudah kiyai.” Jawab Aisyah sembari mengangguk.

“Lantas apa jawabanmu wahai Aisyah?” Abahnya Gus Hasan pun melanjutkan pertanyaan nya.

“Mohon maaf sebelumnya, kalo boleh saya tahu kenapa Gus Hasan ingin memilih saya untuk jadi pendampingnya? Apalah saya ini, hanyalah gadis desa yang tak punya apa apa, saya juga tidak berasal dari keluarga yang sebanding dengan Gus?” Tanya Aisyah kepada Gus Hasan dengan lembut, sembari masih menunduk.

“Ketahuilah Wahai Aisyah, saya Jatuh hati kepadamu bukan karna apa yang engkau miliki sekarang, dan aku tak perduli dari keluarga mana engkau berasal. Tapi aku mencintaimu karna Iman dan taqwamu, karna hatimu, dan juga karna ketaatan mu kepada Allah. Aku mencintaimu karna Allah wahai Aisyah.” Begitulah jawaban Gus Hasan dari pertanyaan yang di lontarkan Aisyah kepadanya.

“Cinta di atas Sajadah” 10

Setelah mendengar jawaban Gus Hasan… akhirnya Aisyah pun bisa lega dan sangat bersyukur atas nikmat Allah ini yang ia dapat. Ia pun tak menyangka ternyata Gus Hasan mempunyai perasaan yang sama dengan nya. Dan ternyata Gus Hasan pun sama sama sudah memendam rasa padanya sejak lama. Mungkin ini pulalah jawaban dari mimpi itu, seekor kuda putih yang gagah menawan adalah simbol dari jelmaan seorang anak Kiyai besar, yang mempunyai akhlak mulia, bijaksana, soleh, tampan, gagah, dan pasti orang yang bisa menuntunnya menjadi muslimah yang lebih baik.

Akhirnya saat akad pun tiba… Gus Hasan yang mengenakan jubah putih, dan di balut jas putih yang warnanya selaras dengan jubah, di tambah indah dengan corak berwarna keemasan di bagian kerah dan bagian dadanya, dan di sempurnakan oleh sorban imamah di kepala, dan sorban yang di sampirkan di pundak yang warnanya selaras dengan corak bajunya… menambah ketampanannya.

Kata “SAH” pun terucap dari semua saksi yang menghadiri… dan semuanya mengucap Alhamdulillah… terutama Gus Hasan yang sangat bersyukur bisa mempersunting Aisyah.
Begitu juga dengan Aisyah yang mendengar kata “SAH” dari semua orang, sontak ia langsung mengucapkan “Alhamdulillah…” ia sangat bersyukur kepada Allah karena semuanya di lancarkan sapai Halal…
Lalu Aisyah pun di antar menemui Gus Hasan

“Cinta di atas Sajadah” 11

Ketika Gus Hasan melihat kedatangan Aisyah, ia terpaku dan matanya berbinar binar, dan terpancar kebahagiaan dari matanya. Di tambah dengan kecantikan Aisyah yang mengenakan gaun pengantin putih yang bercorak warna keemasan yang selaras dengan yang di kenakan Gus Hasan.

Lalu di ciumlah tangan Gus Hasan oleh aisyah, bersamaan dengan di ciumnya kening Aisyah oleh Gus Hasan… terlihat jelas sekali kebahagiaan dari mereka dan segenap orang tua dan sanak saudara yang hadir.

Begitu pula dengan para tamu undangan yang hadir… mereka pun turut berbahagia dengan kebahagiaan itu…

Akhirnya cinta yang tersimpan sejak lama dalam hati masing masing ini, akhirnya di pertemukan dan di persatukan juga oleh Allah SWT. Inilah salah satu bentuk Keagungan dan Ketentuan Allah yang pasti. Jika siapapun hambaNya yang tak henti meminta kepadaNya, dan selalu melibatkan sesuatu hal apapun denganNya, niscahya keinginan itu akan tercapai.

*TAMAT*

Amanat:
“Pendamping hidup yang baik adalah ketika engkau melihatnya, engkau selalu ingat kepada Allah dan RasulNya. Maka pendamping yang demikianlah yang akan menggenggamu, bukan hanya di dunia, tetapi kelak akan membawamu menuju gerbang syurga”
_Gus Hafidz Hakiem Noer_

Karya: Tia Maulida Karani

“Kisah Cerita Bunga Mawar dan Pohon Bambu”

Disebuah taman hiduplah bunga Mawar yang sedang asyik bermain teka-teki bersama kawan sebayanya. Anggap saja ia adalah Julaiha dan biasa dipanggil Jul, ia sosok perempuan yang sangat cantik dan menawan. Banyak orang yang tertarik padanya, karena keharuman dan keindahanya, tapi ia sosok orang yang sangat lemah. Disisi lain juga hiduplan pohon bambu yang sedang asyik bermain petak umpat bersama temanya. Anggap saja ia Nirmala dan biasa dipanggil Nir olehnya, ia seorang gadis yang hitam dan mempunyai badan yang tinggi dan kuat. keduanya adalah sahabat dekat sejak kecilnya, yang selalu bermain bersamanya. mereka selalu berbagi kisah kesedihan da kebahagiaan dalam kehidupanya, apa yang mereka alami ia selalu curahkan bersama.

Dipagi yang cerah nan indah duduklah Julaiha bersama temanya yang sedang asyik bercanda gurau bersamnya. Tiba-tiba datanglah Nirmala kepadanya.

“Hai Julaiha!!! apa yang sedang kau lakukan disitu..?” tanya Nirmla.

“Hehehe ya nih lagi duduk saja sama teman-teman…

ngomong-ngomong gimana kabarnya?” jawab Julaiha sambil tersenyum serta menayakan kabar tentang sahabtnya.

“Alhamdulillah baik Jul…” jawab Nirmala dengan penuh senyuman pula.

“wah syukurlah kalau begitu….

oh ya Nir sinih duduk… aku punya kejutan buat kamu!!! Pasti kamu suka…. ya ngga teman-teman? hehe…” sambil menarik tangan Nirmla.

“Ya pasti dong…..!!” jawan teman julaiha dengan serentak.

“Wah apa itu??” jawab Nirmla dengan penuh keheranan.

“Hehehe ini dia!! tarammm……” sambil menunjukan boneka kesukaan Nirmala yang pada saat itu mau dibeli olehnya.

“Ya ampun………maksih banyak Jul!! Kau memang baik banget, tak ku sangka kau akan melakukan ini semua untukku…” sambil memeluk Julaiha.

“Heheh ngga papa Nir… ini semua hanya untukmu, karena kaulah sahabat terbaiku …!!” jawab Julaiha dengan penuh semangat.

Ditengah perbincangan Julaiha dan Nirmla tiba-tiba datanglah segrombolan orang-orang pengunjung yang ingin berfoto-foto ditaman tersebut. Namun setelah ia melihat bunga Mawar yang begitu indah dan cantik, akhirnya segrombolan orang-orang itu meminta untuk berfoto bersamnya.

“Maaf neng….! Bolehkah saya berfoto bersama neng dan kawan-kawan yang sebaya denganya??” saut pengunjung.

“Oh mangga bu…..!!! tapi bentar ya bu…” jawab ia dengan lembut.

“Oh ya neng…” jawab mereka dengan serentak.

“Nir tunggu disini dulu ya….aku mau poto dulu sama mereka.. bentar saja!! bisik ia dengan lirih.

“Ibu…bapa…dan semuanya…Ayo mari kita poto!!

“Ayo neng…….”

Setelah Julaiha, kawan sebayanya dan para pengunjung melakukan poto bersamanya, Nirmala meminta pamit untuk pulang kerumahnya karena waktu sudah menunjukan pukul 11.00 siang, sedangkan ia harus mengantarkan ibunya ke Balaidesa.

“Jul maaf saya ngga bisa lama-lama disini..saya pamit pulang dulu ya! Soalnya saya harus nganterin ibu ke Balaidesa untuk membuat Surat Kuasa..” saut lina dengan rasa tidak enakan.

“oh ya udah…ati-ati dijalan Nir!!! Titip salam buat ayah bunda ok!” jawab Julaiha sembari memegang kedua tangan Nirmala.

“OK!!! Dah………..sambil melambaikan tanganya.

“Dah……!!Nir jaangan lupa sampaikan salam padanya.” teriak ia dengan kencang.

Hari demi hari telah terlewati. Canada gurau bersamanya membuat ia selalu dekat denganya. Namun dibalik semua itu ada sebuah kejanggalan pada diri seorang Nirmla. Ia merasa dirinya hina, banyak orang yang takut denganya, atau bahkan sampi membencinya. Setiap kali orang berkunjung ke taman, ia selalu diasingkan dan dijauhkkan ketika ia sedang bermain bersama sahabatnya yaitu Julaiha. Pada hari berikutnya ia tidak lagi bermain  bersamanya, ia lebih suka mengurungkan dirinya didalam rumahnya. Suatu hari Julaiha merasa khawatir terhadap sahabatnya yang sudak sekian hari tidak maen ketamanya, lalu ia bertanya kepada temanya yang bernama Wardah.

“Wardah ….Apakah hari ini melihat Nirmla?? Sudah satu minggu ini ia tidak lagi bermain kesini. ada apa dengan dia?? tanya Julaiha dengan penuh kekhawatiran.

“Maaf Jul….saya juga kurang tau! Mulai belakangan ini Nirmla ngga pernah kesinih….” jawan ia dengan penuh sedih.

Dengan penuh penasaran, akhirnya pada kesokan harinya Julaiha memberanikan diri datang ke rumah Nirmla untuk bertemu denganya.

“Tok..tok…tok…..!!!! Assalamu’alaikum….” saut lina.

”Wa’alikumussalam wr.wb….oh Julaiha!! Ada yang bisa bantu neng? jawab Ibu Nirmala.

“Heheh ngga papa ko bu, cuman mau nanya! Nirmlanya ada bu?? saut Lina.

“Ada ko neng….itu lagi dikamar! mulai minggu-minggu ini ia sering ngelamun dan tidak mau keluar rumah neng…silahkan masuk kedalam aja neng..”

“Makasih ya bu….” sambil tersenyum.

“Ya neng ….” jawab ibu Nirmala.

Setelah Julaiha masuk ke kamar Nirmala, lalu ia duduk disamping Nirmala yang sedang berbaring dikasurnya meratapi sebuah kesedihan yang dialaminya.

“Nirmala? Ini saya Julaiaha…” saut ia sambal memegang pundak Nirmala.

“Julaiha!! Kenapa kamu bisa kesini?? sabil membalikan badanya.

“Ya Nir….kedatanganku kesini ingin menjenguk kamu, aku kangen pada dirimu…!! Sudah beberapa hari ini kau tak lagi melihat kamu. Sebenarnya apa yang terjadi pada dirimu Nir?? jawab ia sambil mengerutkan wajahnya.

“Ngga papa ko Nir… cuman pengin sendiri aja!” jawab Nirmala.

“Yang benar ngga papa?? Lantas, kenapa muka kamu sedih begitu? Kelihatanya kamu lagi punya masalah …..! Nir aku mohon kalua kamu punya masalah ceritakan sama saya…jangan kau pendam rasa ini hanya pada dirimu saja, barangkali ketika kau cerita padaku, akau bisa membantumu nir…lagian sejak kecil aku bersahabat denganmu tidak pernah aku sembunyikan masalahku padamu.” sambil merangkul kedua tangan Nirmala.

Pada awalnya Nirmla menutupi kesedihanya, namun setelah beberapa menit akhirnya ia mau menceritakan semua semua itu.

“Ya Jul sebenarnya aku malu pada diriku sendiri, aku tak pantas hidup di dunia ini, aku hanyalah sampah yang tak berarti dalam kehidupan ini. Banyak orang benci padaku atas sosok diriku yang sperti ini….!, mereka mnjahui diriku, ketika mereka berpapasan dengan diriku, mereka anggap aku adalah mahkhluk ghoib yang menyeramkan….!! seolah-oalah mereka menghindar dariku. Beda dengan dirimu Jul.. kaulah manusia yang Allah ciptakan dengan sempurna. Banyak orang suka dan tertarik padamu, karena keindahaan dan kecantikan dirimu. Mereka selalu menyapa dan menghargai dirimu…bahkan mereka selalu mendewa-dewakan dirimu…, sedangkan diriku…?? aku hanyalah sosok manusia yang hina dihadapan semua orang…” sambil menetaskan air matanya.

“jangan pernah kau berkata demikian Nir….kau adalah sosok wanita yang hebat!!! Setiap makhluk tidaklah ada yang senpurna…mereka mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri. Jangan pernah kau anggap paling hina, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai hal demikan. Allah menciptakan semua perbedaan ini tidak lain hanyalah untuk saling melengkapi. Coba kamu bayangkan….!! andai saja semua bumi ini berisi Gedung bertingkat semua….mungkin kau akan merasakan kebosanan bukan??? Maka dari itu, untuk meghadapi semua ini kita harus mensyukuri atas anugrah yang Allah berikan pada setiap makhluknya. Perlu kau ketahui Nir!! Allah sangat sayang pada hambanya selagi ia mau menuruti perintahya dan menjauhi semua laranganya”. sambil menenangkan hati Nirmala.

“Tapi Jul….???” saut ia.

“tapi kenapa Nir??”

“Aku……..”

“Sssstttttt……..!! udah ngga usah kaya gitu lagi dan jangan nangis lagi ok! Sekarang kamu istirahat dulu aja ya….saya mau pulang dulu, kasihat orang tua sendirian.” sambil menutup mulut Nirmala dengan jari telunjuknya.

“Ya udh terimaksih Jul atas semuanya..”

“Ya sama-sama. ya udah saya pulang dulu ya Nir…”

Da dah……!!” sambil melambaikan tanganya.

Keesokan harinya, ketika Nirmala sedang berjalan menuju ke taman Julaiha, tiba-tiba ditengah-tengah perjalanan ia mengalami kehujanan sangat deras serta tidak mau henti-henti, sehingga mengakibatkan taman berserta warga kampung disutu mengalami kebanjiran.

“Waduh gimana nih?? Udah hujanya besar tapi ngga mua reda lagi!! Gimana kabar Julaiha disana? Aku sangat khawatir padanya ya Allah….” saut ia degan cemas.

Setelah menunggu beberapa jam didepan sebuah warung kopi, akhirnya ia membranikan diri untuk datang ke taman Julaiha. Meskipun keadaan hujan besar, tapi tak menjadikan penghalang bagi ia untuk pergi kesana. Setelah ia mendekati 100 M dari tamanya ia melihat banjir yang sedang merendam pemukiman dan taman sahabtnya, dengan sepontan ia langsung berlari unruk menemuinya, karena ia baru ingat bahwa Julaiha adalah sosok prempuan kecil dan lemah, sedangkan dirinya tidak.

“Julaiha………….!!!!” teriak ia sambil berlari.

Setelah ia sampai ketaman sahabatnya yaitu julaiha, ternyata ia tidak menjumpai Julaiha disana. Hati mulai gelisah, mikiran mulai bingung, apa yang harus Nirmala lakukan pada saat itu. Namu seteah ia berusaha mencari kesana-kemari, akhirnya ia berhasil menemukan Nirmala bersama temanya yang sedang berusaha menyelamatkan dirinya disebuah pojok mangga yang ada disamping tamanaya.

“Julaiha… apakah kalian semua baik-baik saja????” saut ia dengan bahagia.

“Nirmala??? Syukurlah kau datang kesini, alhamdulillah kami semua baik baik saja Nir.” saut ia dengan penuh kebahagiaan.

“Syukurlah kalau begitu…! alhamduliiah Jul Allah masih bisa mempertemukan kita bersama, dan untuk semuanya silahkan pegang tangan saya, lalu naiklah dipundaku dan jangan lupa pegangan untuk semuanya!!.

Setelah Nirmala berhasil menyelamatkan Julaiha beserta kawan-kawanya, karena mulai sore, sedangkan hujan mulai reda, banjir mulai surut, akhirnya Nirmala memutuskan untuk pulang, ia baru menyadari bahwa apa yang selama ini ia rasakan tidaklah benar. Ia merasa bersalah pada dirinya sendiri, ternya benar apa yang dikatakan oleh sahabatnya bahwa “Dunia ini tidak ada yang sempurna, mereka mempunya kelebihan dan kekurang tersendiri, karena Allah menciptakan semua ini tidak lain hanyalah untuk saling melengkapi”. Pada akhirnya ia berjaji pada dirinya sendiri bahwa “Aku tidak akan mengulangi hal ini lagi, Karena sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang pada setiap makhluknya.”

Dari cerita diatas, dapat kita ambil hikmah pelajaran darinya.

Bahwa:

“Hidup ini tidak ada yang sempurna. Kekurangan dan kelebihan merupakan sebuah anugrah  yang Allah berikan pada setiap hambanya. Jangan pernah kau merasa dirinya yang paling hina, sebelum engkau menemukan kehebatan yang Allah berikan padanya, karena Allah menciptakan semua ini tidak lain hanyalah untuk saling melengkapi dan menjungjung tinggi sebuah perbedaan yang kita miliki”.

 

Allah Maha Adil

images[1][5]

Lina merupakan seorang perempuan yang bergaris keturunan orang sunda. Ia terlahir dari sebuah kelurga yang dibilang cukup kaya di sebuah desanya. Keluarga Lina memilikii sebuah kebun apel dibelakang Rumahnya yang sangat luas, yang bisa mereka manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidupanya. Dengan hal inilah yang membuat Lina dan keluargnya hidup dengan penuh kedamaian. meskipun demikian, Lina terkadang tidak mensyukuri atas apa yang ia dapatkan.

Suatu hari Lina pergi ke kebun apel yang berada dibelakang rumahnya, sambil membawa buku tulisnya. Saat diujung perjalanan ia menjumpai kebun semangka milik tetangganya yang sedang dipanen. kebun itu berada dibelakang kebun apel miliknya. kemudian, Lina mendatangi kebun tersebut lalu bertanya kepada pemiliknya.

“Pak boleh tanya?” (saut lina)

“Ya ada apa neng Lina….?” (jawab pak Herman)

“Mmm…..Kalau boleh tahu?? buah itu ko besar banget ya pak!!, tapi… pohonya kecil. Sedangkan, pohon apel saya ko besar, tapi…buahnya kecilnya pak?? Andaikan saja ..buah pohon apel saya besar, seperti buah semangka ini, mungkin penghasilan orang tuaku pasti besar, sehingga kalau akau minta sesuatu pasti dikasih oleh mama atau bapak aku” (Tanya lina dengan penuh keheranan)

“Hehehe…..neng Lina ini pertanyaanya ada-ada ajah!! Namanya juga kehidupan neng,,,,ngga mungkin semuanya itu sama, pasti ada perbedaanya. Neng Lina ajah kalo beli baju sukanya beda-bedakan? Hehe …Karena neng, yang namanya perbedaan itu adalah rahmat, jadi kita harus syukuri ajah!! (jawan ia sambil tersenyum)

“Mmm…..yaudah pak makasih. barangkali merepotkan….” (sambil membalikan badanya)

“Ya Neng sama-sama, yaudah bapak kerja dulu ya Neng…..”

“Ya pak ati-ati,,,,!!” (sambil menggelengkan kepalanya)

Sambil memikirkan, Lina menjalutkan perjalananya menuju ke-rumah, namun karena lina kelelahan akhirnya ia memutuskan untuk istirahat sejenak dibawah pohon apel miliknya. Setelah beberapa menit kemudian tiba-tiba ada sebuah tiupan angin kencang, yang mengakibtkan buah yang berada diatasnya terjatuh mengenai kepala Lina. Karena kaget, Lina sepontan Bertriak.

“Aww sakit….!!” (sambil meletakan tanganya diatas kepalnya)

Rasa sakit yang dialaminya, membuat Lina tersadar bahwa apa yang selama ini ia pikirkan tidaklah benar, melainkan hanya nafsu syaitan belaka. Ia mulai menyadari bahwa Allah adalah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Allah menciptakan ini semua, karena Allah mempunyai tujuan yang dikehendakinya. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui kecuali hanya dzatnya. Ia beruntung masih diberikan kehidupan, andai saja buah apel yang barusan tadi jatuh dikepalanya sebesar buah semangka atau pohonya, mugkin sekarang ini Lina sudah tidak ada lagi di dunia, namun karena Allah sudah berkehendak yang lainya, sehingga sampai sekarang ini Lina masih bisa hidup seprti biasanya.

Begitulah kisah dibalik Lina, semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya, bahwa:

“Hidup adalah Rahmat, maka jagalah ia dengan benar. Jangan pernah kau mengingkarinya apalagi berpaling darinya. Allah melakukan demikian karena Allah mempunyai tujuan yang dikehendakinya, tak ada seorang pun yang dapat mengetahuinya kecuali hanya dzatnya”

duniapesantrenku321552040.WordPress.com

“Waiting Place” (penantian)

Pagi yang indah, bagiku…

Inilah sebuah kehangatan

Pancaran mentari kehidupan,

Menembus sebuah dinding keindahan…

Bagaikan samudra yang menghampas sebuah daratan.

Siang yang menakutkan, bagiku…

Bergerak tuk menyongsong masa depan

Keringat yang bercucuran…

Hembusan nafas terengah-engah…

Hati mulai gelisah…

Menerima panasnya mentari ilahiyah.

Sore yang menyedihkan, bagiku…

Inilah sebuah perpisahan

Mentari yang selalu menemani…

Mentari yang selalu memberi…

Mentari yang selalu menghiasi…

Kini akan menghilang, dalam sebuah kegelapan.

Malam yang merindukan, bagiku…

Inilah sebuah harapan

Tatkala sinar mentari kemabali menyinari…

Menampakan keindahan sinarnya…

Seakan hidup dalam pandanganya…

Hati mulai gelisah, memikirkan sebuah jawab tentang siapakah dia???

Dia hanyalah mimpi indah dalam tidurnya…

By: Agus Damawi

 

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: