Ketika Harapan Menjadi Sebuah Kebanggaan

Inilah yang dirasakan saat ini oleh gadis cantik asal jawa. Sebut saja ia adalah Setianti anak dari keluarga Bapak Sori yang tinggal di Pedesaan dekat sebuah pesawahan. Ia merupakan gadis yang tomboy, sederhana, taat beribadah, pintar, patuh terhadap orang tua dan penuh dengan kemandirian. Sejak kecil ia ditinggal oleh ibunya merantau ke sebuah negara Arab Saudi untuk mencari pekerjaan disana, sehingga apapun makananaya itulah yg harus ia syukuri atas nikmat Allah yang diberikan padanya. Ia mempunyai ternak kambing meskipun terbilang sedikit dan membutuhkan waktu lama untuk memuainya, tapi tak menjadikan masalah bagi ia dan keluarganya tuk selalu beristiqomah dalam memliharanya. Ia juga mempunyai ladang kecil yang sering ia tanami beraneka ragam sayuran untuk mereka jual ketetangganya serta di beberapa warung didesanya.

Sejak kecil ia sekolah dibangku Sekolah Dasar (SD), yang mana ia tidak bersama dengan ibunya akan tetapi ia bersama bapak dan kakak laki-lakinya, karena pada saat itu ibunya pergi ke luar negeri. Meskipun demikian ia tetap semangat menjalani hidupnya di waktu ia masih duduk dibangku sekolahnya. Setiap kali ia mau berangkat sekolah terlebih dahulu ia membantu ayahnya dalam menjalani aktifitas paginya seperti: menyapu, nyuci piring, dan bersih-bersih yang lainya. Sehingga tergadang ia suka terlambat ketika berangkat ke sekolah, tidak seperti teman yang lainya yang biasa masuk jam 07.00 pagi. Ia juga selalu membawa bekal makanan atau lainya yang ia dapatkan dikebun miliknya atau kebun milik saudaranya, ketika ia tidak mendapat uang saku dari orang tuanya, ia tidak merasa malu ketika ada temanya yang mengolok-ngolok atau menghina ia, karena pada prinsipnya, ia selalu tancapkan diri dalam hatinya bahwa:

janganlah pernah kau balas keburukan dengan keburukan apalagi kebaikan dibalas dengan keburukan tapi balaslah keburukan atau kebaikan dengan kebaikan pula”

Meskipun terkadang ia suka marah atau bahkan sampai melemparkan sesuatu kepada mereka atas apa yang mereka lakukan padanya.

Sepulang sekolah ia melakukan sholat dhuhur dirumahnya, karena ini merupakan ajaran orang tua yang mereka torehkan sejak kecil padanya. Setelah ia makan dan istirahat lalu ia pergi bersama ayahnya ke sebuah kebun miliknya yang berada di belakang Rumahnya untuk memetik sayuran kangkung yang sudah bisa dipanen, yang kemudian ia jual ke tetangga, saudara dan warung di Desanya pada waktu sore. Terkadang ia juga mencari rumput untuk kambing peliharaanya ketika bapaknya tidak ada di rumahnya. Itulah yang ia lakukan pada masa-masa sekolahnya.

Setelah ia lulus dari bangku sekoalah dasar (SD), ia melanjutkan pendidikanya di Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Desa sebelahnya. Hasil kegigihan dan keuletanya membuat ia berhasil menorehkan ptestasi di Sekolahnya. Ia sering mendapatkan pringkat di Kelasnya, karena ia merupakan salah satu siswa pandai dari beberapa siswa disekolahnya. Namun, ada sesuatu yang disanyangkan darinya, setelah ia lulus dari bangku sekokah, ia tidak bisa melanjutkan pendidikan sekolah ke jenjang berikutnya seperti teman yang lainya, karena ada faktor ekonomi yang membuat ia berhenti dari pendidikanya. Padahal pada saat itu, ia ingin sekali melanjutkan sekolahnya sperti yang lainya, karena bagaimanapun juga yang namanya pendidikan adalah penting bagi dirinya, karena masih banyak keinginan dan cita-cita yang ingin ia torehkan pada kedua orang tuanya. Namun apalah daya semua ini sudah menjadi jalanya, ia harus mensyukurinya atas karunia yang Allah berikan padanya.

Meskipum demikan ia tidak putus semangat atas jalan yg Allah ridhoinya. Bulan demi bulan Kini ia tinggal di jakarta memcari sebuah pekerjaan disana, karena bagaimanapun juga ketika harapan tidak bisa digapainya, maka masih ada jalan lain yang ia harus tempuhnya, sehingga dengan adanya jalan inilah yang diharapkan bisa membahagian orang tuanya. Lima tahun yg dilalaminya tak ada kata bosan baginya tuk selalu berbakti padanya. Alhadulillah berkat keuletan ia dalam menjalani hidupnya kini ia bisa hidup bahagia bersama keluarganya ditambah lagi kini ia mempunyai dua adik yang ia sayanginya. Ia merupakan anak kebanggaan orang tuanya yang harus kita jadikan pelajaran darinya.

“Jika harapan tidak bisa kau gapai, maka masih banyak jalan yang harus kau tuai, karena hidup bukan satu pilihan tapi ribuan limpahan yang Allah berikan.”

Diterbitkan oleh Catatan Harian Santri

Belajar di: 1. Pondok Hidayatul Mubtadiin Al-Inaaroh 2 Buntet Pesantren Cirebon 2. IAIN (Insistut Agama Islam Negeri) Syekhnurjati Cirebon

2 tanggapan untuk “Ketika Harapan Menjadi Sebuah Kebanggaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: